Profil

Tempat Pengolahan Pupuk Organik

Latar Belakang

Tempat Pengolahan Pupuk Organik Nusakambangan lahir dari kebutuhan mengelola limbah peternakan (kotoran sapi, ayam, domba dari Lapas Terbuka, Lapas Permisan, dan Lapas Kembang Kuning) serta kotoran kelelawar dari goa-goa alami di Nusakambangan, yang kemudian diolah menjadi pupuk organik oleh Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) terlatih. Ini menjadi komponen kunci dari kawasan Food Estate terpadu (pertanian, peternakan, perikanan) yang dikembangkan Lapas Batu sebagai media asimilasi dan pelatihan vokasi.
Beberapa titik penting perjalanannya:
• Pembangunan Pupuk Organik Nusakambangan dimulai pada bulan agustus 2025 bekerjasama PT. Solusi Bangun Indonesia.
• November 2025, Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan Agus Andrianto bersama Utusan Khusus Presiden Raffi Ahmad meninjau proses pembuatan pupuk organik oleh WBP, sebagai bagian dari program prioritas ketahanan pangan nasional Presiden Prabowo Subianto.
• Februari 2026, Kunjungan dari Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan Agus Andrianto bersama Komisi XIII DPR RI. Kunjungan kerja tersebut bertujuan meninjau langsung pelaksanaan pembinaan kemandirian Warga Binaan sekaligus memastikan efektivitas pemanfaatan lahan produktif di Nusakambangan dalam mendukung program ketahanan pangan nasional. Salah satu fokus utama kunjungan adalah pengolahan pupuk organik berbahan dasar limbah kotoran hewan dengan teknologi mikroba inovatif hasil riset tim akademisi Unsoed.
• Juni 2026, Ketua Komisi IV DPR RI, Siti Hediati Soeharto atau yang akrab disapa Titiek Soeharto melakukan kunjungan kerja di Pulau Nusakambangan, yang didampingi Kepala Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan (Imipas) Agus Andrianto, Direktur Jenderal Pemasyarakatan Mashudi, Direktur Jenderal Imigrasi Hendarsam Marantoko, dan Plt. Bupati Cilacap Ammy Amalia Fatma Surya, melihat aktivitas narapidana di workshop batako dan paving block, peternakan unggas baik ayam maupun bebek petelur, persawahan, serta Balai Latihan Kerja (BLK) pengolahan pupuk organik, budidaya ikan sidat dan pengolahan sampah.

Visi

"Dari Nusakambangan untuk Ketahanan Pangan Indonesia" — menjadikan Nusakambangan sebagai kawasan produktif berbasis Food Estate terpadu yang mandiri secara pangan sekaligus pusat pembinaan kemandirian WBP bertaraf nasional.

Misi

  • Mengolah limbah peternakan dan goa (kotoran sapi, ayam, domba, kelelawar) di Nusakambangan menjadi pupuk organik berkualitas tinggi, ramah lingkungan, dan bernilai ekonomi.
  • Membina kemandirian WBP melalui pelatihan vokasi bersertifikat di bidang pengolahan pupuk dan agribisnis sebagai bekal reintegrasi sosial.
  • Mendukung program ketahanan pangan nasional (Asta Cita) dan 13/15 Program Akselerasi Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan, khususnya kemandirian pangan lewat pertanian, perikanan, dan peternakan di lahan-lahan tidur Lapas.
  • Membangun kolaborasi lintas sektor dengan Universitas Jenderal Soedirman (standarisasi mutu dan riset) dan Dinas Pertanian Kabupaten Cilacap (pelatihan dan distribusi) untuk menjamin mutu produk dan keberlanjutan program.

Tujuan

Menjadikan Lapas bukan hanya mandiri secara pangan, tetapi juga pusat pelatihan vokasi yang menghasilkan produk berkualitas — dengan Nusakambangan sebagai pilot project yang diharapkan direplikasi secara nasional ke seluruh Lapas dan Rutan yang memiliki lahan idle.

Sasaran

<